Sholat Tahajud Sebagai Terapi Berbagai Penyakit

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَات أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Segala puji bagi Allah, Rabb dan sesembahan sekalian alam, yang telah mencurahkan kenikmatan-kenikmatanNya, rizki dan karuniaNya yang tak terhingga dan tak pernah putus sepanjang zaman. Kepada makhluknya baik yang berupa kesehatan maupun kesempatan sehingga pada kali ini kita dapat bersilaturahmi melalui tulisan ini dalam rangka menunaikan kewajiban berbagi rasa kepedulian sesama saudara dan teman dan handaitaulan.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada uswah kita Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam, yang atas jasa-jasa dan perjuangan beliau cahaya Islam ini tersampaikan kepada kita, sebab dengan adanya cahaya Islam tersebut kita terbebaskan dari kejahiliyahan, Dan semoga shalawat serta salam juga tercurahkan kepada keluarganya, para sahabatnya dan pengikut-pengikutnya hingga akhir zaman. Dalam sebuah hadist Rasulullah disebutkan bahwa terdapat empat manfaat agung dari sholat tahajjud, yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT, menghapuskan berbagai keburukan, mencegah dari perbuatan dosa dan mengusir penyakit dari tubuh. Aspek yang ingin ditonjolkan dalam tulisan ini kaitan dari keajaiban sholat tahajjud untuk mengusir penyakit dalam tubuh. Seperti judul tulisan ini, bahwa terapi sholat tahajjud dapat menghindarkan tubuh dari segala macam penyakit. Sholat tahajjud yang dilakukan di penghujung malam yang sunyi, memang bisa mendatangkan ketenangan. Sementara ketenangan itu sendiri terbukti mampu meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan hidup. Sholat Tahajjud mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai coping mechanism atau pereda stres yang akan meningkatkan ketahanan tubuh seseorang secara natural.

Dalam menjalankan terapi sholat tahajjud, hal yang penting adalah “keikhlasan”. Karena jika terapi sholat tahajjud ini tidak dilaksanakan dengan keikhlasan dan kontinyu, malah bisa mendatangkan stres, karena terjadi kegagalan dalan menjaga homeostasis atau daya adaptasi terhadap perubahan pola irama pertumbuhan sel yang normal. Keikhlasan dalam sholat tahajjud dapat dimonitor lewat irama sirkadian terutama sekresi hormon kartisolnya. Kedahsyatan shalat tahajjud ini telah diisyaratkan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an: “Dan pada sebagian malam hari, shalat tahajjudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Israa’:79).

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا {79}

“Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji.” (QS : Al-Isro’ : 79)


Ayat ini memerintahkan Rasulullah dan kaum Muslim agar bangun di malam hari dan mengerjakan salat tahajud. Ayat ini merupakan ayat yang pertama kali memerintahkan Rasulullah mengerjakan salat malam sebagai tambahan atas salat yang wajib. Salat malam ini diterangkan oleh hadis Nabi saw:

Artinya:
Bahwasanya Nabi saw ditanya orang: "Salat manakah yang paling utama setelah salat yang diwajibkan (salat lima waktu). Rasulullah saw menjawab: Salat tahajud". (H.R. Muslim dari Abu Hurairah) Bahkan Nabi SAW telah menegaskan pentingnya kedudukan shalat tahajjud ini, seperti dalam sabdanya berikut: “Shalat tahajjud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan dan menghindarkan dari penyakit. - (HR Tirmidzi).”

Ternyata, shalat tahajjud yang dilakukan dengan khusyuk, ikhlas, kontinyu dan penuh pengharapan akan ridho Allah SWT pada waktu tengah malam dapat mendatangkan rasa ketenangan dan ketentraman yang luar biasa. Suasana yang tenang dan sunyi pada malam hari tentu dapat menunjang konsentrasi, sehingga kekhusyukan dalam shalat lebih mudah didapat. Dalam kondisi seperti ini, bacaan shalat dan do’a yang dipanjatkan dapat lebih mudah diresapi maknanya. Sehingga, shalat tahajjud dapat menumbuhkan persepsi dan motivasi positif akan datangnya pertolongan Allah SWT. Reaksi emosi positif ini dapat menghindarkan reaksi stress. Gangguan kesehatan yang sering terjadi pada masyarakat belakangan ini (gangguan jantung, kanker, diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi, asam urat tinggi, dll) lebih banyak disebabkan oleh faktor gagalnya sistem tubuh dalam mengendalikan stress yang disebabkan oleh permasalahan fisik ataupun psikis. Ditambah dengan pola makan yang tidak terkontrol, hormon-hormon dalam tubuh bekerja tidak secara seimbang. Kerja hormon yang tidak seimbang ini dapat menurunkan sistem kekebalan (imunologi) tubuh sehingga mudah terjadi gangguan keseimbangan tubuh (penyakit).

Sholat Tahajud Sebagai Terapi Berbagai Penyakit ( Dimensi Psikoneuroimunologi sholat ),

Ternyata sholat bisa menjadi terapi berbagai penyakit, bagi sebagian orang mungkin akan kaget dengan judul tulisan ini. Namun, percayalah, bahwa ini memang benar adanya dan telah dibuktikan secara ilmiah multiplier efek sholat terhadap kesembuhan penyakit. Secara sederhana Psikoneuroimunologi dapat diartikan sebagai bentuk kekebalan tubuh yang didapat dari kondisi psikologi dan keadaan jiwa seseorang. Atau bisa juga diartikan sebagai hubungan antara keadaan otak/saraf, psikis dan kekebalan tubuh seseorang. Jadi, secara Psikoneuroimunologi kesehatan seseorang akan terganggu ketika ada gangguan pada aspek psikologis.

WHO (World Health Organization) mendefinisikan sehat sebagai suatu keadaan sejahtera secara fisik, jiwa, sosial dan ekonomi. Sedangkan teori lama tentang timbulnya penyakit menyatakan bahwa suatu penyakit akan muncul jika terdapat gangguan pada salah satu atau lebih aspek dari segitiga berantai. Segitiga tersebut meliputi Host, agent dan environment yang bisa digambarkan sebagai segitiga yang terdiri dari : host-Agent- environment Artinya seseorang akan sakit jika keadaan tubuh sedang ada gangguan, ada agen penyebab penyakit, atau/dan adanya lingkungan yang mendukung pada timbulnya penyakit. Teori lama ini kurang memperhatikan factor psikologi sebagai penyebab timbulnya penyakit. Berbeda dengan teori baru yang dikemukakan Prof. Dr. H.M Sholeh Drs.MPD.PNI dalam seminarnya di UNISULA (20 Desember 2008). Beliau menyebutkan bahwa etiologi (penyebab) timbulnya penyakit ada lima, yaitu: pola pikir, pola makan, pola laku, pola lingkungan (missal radiasi), serta kehendak Alloh SWT. Beliau juga menyebutkan bahwa pada dasarnya sumber dari berbagai penyakit adalah factor ketidakikhlasan dan kesombongan yang bercokol di hati. Orang yang sombong, dengki dan tidak ikhlas cenderung lebih rentan terhadap stress. Sementara itu jika kita stress tubuh kita akan mengeluarkan Hormone cortisol, yaitu suatu hormone yang dihasilkan oleh cortex adrenal (suatu kelenjar yang berada di ginjal bagian atas) dan hanya akan keluar jika kita stress. Cortisol akan menyebabkan protein dari berbagai jaringan smidal otot dsb-kecuali protein pada hati dilepaskan untuk kemudian diubah lagi menjadi glukosa. Cortisol yang meningkat menyebabkan penurunan sel-sel makrofag, basofil, ionofil dll dalam tubuh, dimana sel-sel tersebut pada dasarnya berfungsi `memakan` sel-sel abnormal dalam tubuh. Jika sel-sel tadi jumlahnya semakin menurun, maka diprediksi apa yang akan terjadi, yaitu peningkatan sel abnormal dalam tubuh yang manifestasi aikhirnya adalah akan timbul suatu penyakit. Secara ringkas, Ganner dalam Biokimia Harper menyatakan bahwa kortisol menekan system imun (pertahanan tubuh) yang menyebabkan seseorang rentan terhadap penyakit.

Psikoneuroimunologi Dari Segi Sains

Modifikasi system imun pada saat stress Seperti yang telah dibahas di atas, bahwa ketika kita stress akan terjadi gangguan pada sel-sel tubuh kita, yang secara skematis bisa digambarkan sebagai berikut: Stress terjadi adanya peningkatan hormone cortisol penurunan sel makrofag (pemakan sel-sel abnormal) peningkatan sel abnormal pertumbuhan myoplasma (tumor atau kanker) dan penurunan tingkat kekebalan Sekedar catatan, 1 ( satu ) sel makrofag akan memakan > 20 sel abnormal dalam tubuh. Ini berarti jika ada 10 saja sel makrofag yang turun, maka akan ada 200 sel abnormal yang muncul dalam tubuh kita. Perbandingan yang cukup tajam, bukan?

Hubungan Kortisol dengan Tahajud /Shalat Malam

Kortisol dikeluarkan oleh kelenjarnya secara periodic, sehingga membentuk suatu irama yang disebut sebagai `Irama sirkadian`. Kadar kortisol tertinggi dicapai setelah tengah malam (dini hari) hingga siang hari. Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita menurunkan kadarnya secara umum sehingga kita sehat dengan kekebalan yang tinggi? Kuncinya adalah: Tahajud! Pada saat kita sholat tahajud, maka kita terbawa pada suatu kondisi emosional yang stabil. Kita akan lebih rileks dan kondisi psikologi menjadi lebih tenang. Penelitian yang dilakukan oleh Prof. Sholeh terhadap 41 responden siswa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya menunjukkan bahwa pada pengamal sholat tahajud, kadar hormone kortisol relative stabil dan relative lebih rendah. Ketika diuji kadar system imunnya, diperoleh hasil yang bermakna pada uji statistic dalam kelompok tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sholat tahajud berpengaruh terhadap peningkatan respon ketahanan tubuh imunologik. Sholat tahajud yang dilaksanakan secara kontinyu (terus menerus/ berkesinambungan), khusyuk dan ikhlas mampu menumbuhkan persepsi dan motivasi positive dan memperbaiki suatu mekanisme tubuh dalam mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima. Dengan sholat yang lama, maka sel makrofag mencapai maksimal dan akan memakan sel abnormal lebih banyak. Prof.Sholeh juga menyebutkan bahwa dengan sholat tahajud selama 2 bulan, akan menurunkan kadar kortisol, meningkatkan jumlah makrofag, basofil, ionofil dll, menurunkan jumlah sel abnormal dan akhirnya penyakit dapat sembuh. InsyaAlloh…

Jadi, marilah bersama-sama menunaikan tahajud agar hidup kita bisa lebih sehat, baik lahir maupun batin. Ayo! Sholat Tahajjud Sebagai Terapi Kejiwaan Ditengah kehidupan yang kian sulit masyarakat dewasa ini akan mudah terhinggapi oleh penyakit kejiwaan seperti anexiety (kecemasan), phobia, insomnia, depresi yang berujung pada mental disorder berat. Maka ada jenis pengobatan, pertama dengan melakukan pengobatan konvensional misalnya diberi obat anti cemas dan yang kedua terapi kejiwaan religius (misalnya sholat tahajjud, dzikir dan membaca qur'an). Berdasarkan penelitian (Hawari, 2004) telah dilakukan studi terhadap 62 orang, orang yang mendapatkan terapi kejiwaan sholat tahajjud lebih cepat proses penyembuhannya daripada yang menggunakan obat anti cemas. Proses penyembuhan lebih cepat dilakukan dengan sholat tahajjud mampu menyembuhkan kecemasan dan menimbulkan perasaan tenang, didasarkan oleh firman Alloh SWT dalam surat al-Muzzamil 1- 6, "hai orang yang berselimut, Bangunlah (untuk sholat) dimalam hari, kecuali sedikit (daripadanya). (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah alquran itu dengan perlahan, sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ {1}نِصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا {3}قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا {2} أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا {4} إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا {5} إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْءًا وَأَقْوَمُ قِيلًا {6}

Hai orang yang berselimut (Muhammad),(QS. 73:1) bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),(QS. 73:2) (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit,(QS. 73:3) atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al quran itu dengan perlahan-lahan.(QS. 73:4) Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.(QS. 73:5) Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.(QS. 73:5)


Ibnu `Abbas berkata: Awal mula Jibril datang di gua Hira', Nabi Muhammad SAW takut kepadanya dan Nabi menyangka bahwa dirinya kemasukan jin. Maka dalam keadaan gemetar Nabi Muhammad SAW pulang meninggalkan gua Hira'. Setiba di rumah beliau berkata "Selimutilah aku, selimutilah aku". Sedang Nabi dalam keadaan berselimut Jibrilpun datang kepadanya dengan menyampaikan ayat-ayat ini. ( Hai orang yang berselimut yakni Nabi Muhammad. Asal kata al-muzzammil ialah al-mutazammil, kemudian huruf ta diidghamkan kepada huruf za sehingga jadilah al-muzzammil, artinya, orang yang menyelimuti dirinya dengan pakaian sewaktu wahyu datang kepadanya karena merasa takut akan kehebatan wahyu itu)

Allah memerintahkan Nabi-Nya yang sedang berselimut supaya mendirikan salat malam seluruhnya atau sebagiannya. Seruan Allah kepada Nabi Muhammad SAW didahului dengan kata-kata "Hai orang yang berselimut".

Allah menerangkan dengan perkataan sebagian, yaitu berupa separuh atau lebih. Jelasnya Allah menyerahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk memilih waktu melakukan salat malam. Ia dapat memilih antara sepertiga. seperdua dan dua pertiga malam. Maka Allah memberi kebebasan kepada Muhammad SAW untuk memilih waktu-waktu tersebut. Yang dimaksud dengan sepertiga malam menurut waktu Indonesia ialah kira-kira antara jam 10 dan jam 11 malam, seperdua malam ialah waktu antara jam 12 dan 1 malam dan dua pertiga malam ialah waktu antara jam 2 dan 3 sampai sebelum fajar. (Yaitu seperduanya) menjadi badal dari lafal qaliilan; pengertian sedikit ini bila dibandingkan dengan keseluruhan waktu malam hari (atau kurangilah daripadanya) dari seperdua itu (sedikit) hingga mencapai sepertiganya.

Dalam ayat 4) ini Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw supaya membaca Alquran secara seksama (tartil), ialah membaca Alquran dengan pelan-pelan dengan bacaan yang fasih serta merasakan arti dan maksud dari ayat-ayat yang dibaca itu, sehingga berkesan di hati. Perintah ini dilaksanakan oleh Nabi SAW. Dari Siti `Aisyah beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW membaca Alquran dengan tartil, sehingga surah yang dibacanya menjadi lebih lama dari ia membaca biasa Dalam hubungan ayat ini Abdullah bin Mugfil berkata:

Artinya:
"Aku melihat Rasulullah SAW pada hari penaklukan kota Mekah, sedang menunggang unta, beliau membaca surah Al Fath di mana bacaan itu beliau melakukan tarji' (bacaan lambat dengan merasakan artinya). (H.R. Bukhari dan Muslim) Pengarang buku Fathul Bayan berkata: Yang dimaksud dengan pengertian tartil ialah kehadiran hati ketika membaca dan tidaklah yang dimaksud itu asalkan mengeluarkan bunyi dari tenggorokan dengan memoncong-moncongkan muka dan mulut dengan alunan lagu, sebagaimana kebiasaan yang dilakukan pembaca-pembaca Alquran zaman sekarang baik di Mesir maupun di Mekah dan sebagainya. Membaca yang seperti itu adalah suatu bacaan yang dilakukan orang-orang yang tidak mengerti agama". Membaca Alquran secara tartil mengandung hikmah yaitu terbukanya kesempatan untuk memperhatikan isi ayat-ayat yang dibaca dan di waktu menyebut nama Allah si pembaca akan merasa kemahaagungan-Nya. Ketika tiba pada ayat yang mengandung janji, pembaca akan timbul harapan-harapan, demikian juga ketika membaca ayat ancaman, pembaca akan merasa cemas. Sebaliknya yakni membaca Alquran secara tergesa-gesa atau dengan lagu yang baik tetapi tidak memahami artinya adalah suatu indikasi bahwa si pembaca tidak memperhatikan isi ayat yang dikandung oleh ayat-ayat yang dibacanya (Atau lebih dari seperdua) hingga mencapai dua pertiganya; pengertian yang terkandung di dalam lafal au menunjukkan makna boleh memilih. (Dan bacalah Alquran itu) mantapkanlah bacaannya (dengan perlahan-lahan.)

Ayat 5) ini menerangkan bahwa Allah akan menurunkan Alquran kepada Muhammad SAW yang di dalamnya terdapat perintah-perintah dan larangan Allah; yang merupakan beban yang berat, baik terhadap Muhammad SAW maupun terhadap pengikutnya. Beban yang berat itu tidak ada yang mau memikulnya kecuali orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah.

Ayat 6) ini menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan pada malam hari sangat mantap, baik di hati maupun di lidah sebab bacaan ayat-ayat itu lebih jelas dibandingkan pada bacaan pada siang hari di saat manusia sedang disibukkan oleh urusan-urusan penghidupan.

Sesungguhnya bangun diwaktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan diwaktu itu lebih berkesan." Bacaan sholat tahajjud dimalam hari yang membekas didalam hati itulah yang mampu menyembuhkan penyakit kejiwaan lebih cepat. Namun yang paling mendasar didalam sholat tahajjud yang akan menyembuhkan segala bentuk penyakit kejiwaan adalah sikap pasrah kita kepada Sang Khaliq. sikap pasrah bahwa tiada penyembuh dari segala penyakit dan masalah dalam hidup kita hanyalah Alloh SWT semata sebagai penentunya. Membiasakan sholat serta shalat tahajud yang dilaksanakan dengan penuh konsisten/istiqomah merupakan sarana bagi seorang muslim untuk mencapai tangga dan menapaki tingkat menuju ke puncak ke imanan.

Al Qur’an berorientasi kepada keimanan, sedangkan sholat merupakan salah satu sarana jalan menuju keimanan. Karena iman sangat penting bagi jiwa dan hati manusia, seperti Firman Allah QS Al Ra’ad 28

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ {28}

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS. 13:28)

Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan siapakah orang yang mendapat tuntunan-Nya itu? Mereka ialah orang-orang beriman dan hati menjadi tenteram karena senantiasa mengingat Allah. Ingatlah, bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram dan jiwa menjadi tenang, tidak merasa gelisah dan merasa takut atau pun khawatir, karena orang yang senantiasa mengingat Allah senantiasa melakukan hal-hal yang baik, dan ia merasa bahagia dengan kebajikan yang dilakukannya itu. Iman adalah inti ketenangan hati dan jiwa, apabila hati tenang, maka iman akan menambah ketentraman pad jiwa, seperti Firman Allah QS Al Fath 4


هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا {4}

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,(QS. 48:4)

Allah SWT menganugerahkan nikmat Nya dengan menanamkan ketenangan dalam hati orang-orang yang beriman, terutama dalam hati para sahabat yang ikut serta beserta Rasulullah saw. Dengan ketenangan hati itu, para sahabat tunduk dan patuh kepada hukum Allah dan keputusan Rasul Nya. Dengan ketenangan hati itu, Allah SWT menambah iman para sahabat. Imam Bukhari menetapkan kesimpulan berdasarkan ayat ini bahwa iman itu tidak sama kadarnya dalam tiap-tiap hati orang-orang beriman; ada yang tebal ada yang sedang, dan ada pula yang tipis. Di samping itu iman dapat pula bertambah dan berkurang pada diri seseorang. Ketenangan jiwa telah menjadi tujuan utama yang dicari cari oleh setiap ilmuwan kejiwaan di dunia ini untuk dijadikan obat penawar berbagai penyakit yang menimpa manusia. Termasuk hal yang mengherankan bila para ilmuwan modern di Barat justeru menyeru kepada keimanan kepada Allah, padahal mereka sama sekali tidak mengenal agama Islam kecuali sebatas perkiraan mereka saja. Pandangan sarjana Barat tentang Iman kepada Allah yang seperti disampaikan oleh Alexis Karel yaitu seorang pemenang hadiah Nobel dalam bidang kedokteran dan bedah, mengatakan dalam bukunya berjudul Misteri Manusia bahwasanya” Ketegangan dan Kecemasan dapat menyebabkan perubahan organ dan terjadinya penyakit. Kondisi tersebut juga sangat merugikan kesehatan. Para Pengusaha yang tidak tahu bagaimana menjaga diri untuk menhadapi kecemasan mereka menjadi sakit dalam usia yang belum tua. Kemudian Karel mengaitkan dengan orang-orang yang memeluk salah satu agama yang beliau istilahkan sebagai ” orang-orang yang sederhana”. Beliau mengatakan ”Orang-orang yang sederhana ini” seakan-akan merasakan adanya Allah semudah mereka merasakan panasnya matahari atau hadirnya seorang sahabat. Karel ingin menggambarkan orang – orang yang beriman dengan istilah ”orang-orang yang sederhana”. Karena beliau melihat kehidupan orang – orang mukmin penuh dengan ketenangan, ketentraman, dsn kesederhanaan diri dalam kehidupan dunia. Keimanan atau kesederhanaan inilah yang dimaksudkan Alexis Karel sebagai suatu yang dapat mencegah ketegangan.

Seorang ilmuwan bernama Budley, mengatakan tentang pengaruh iman kepada Allah. ” saya sama sekali tidak mengalami ketegangan. Pada hal saya hidup di gurun pasir. Bahkan saya hidup di surga Allah karena saya mendapatkan ketenangan, sikap qana’ah dan sikap ridha. Banyak orang yang menertawakan sifat” pasrah kepada Tuhan” yang telah diyakini oleh orang-orang muslim Arab. Tapi siapa tahu justru orang-orang muslim inilah yang benar dan dan telah menemukan hakikat kebenaran.Mereka menamakan dengan istilah ”pasrah kepada Tuhan” dengan istilah Maktubah (tersurat), Qismah (jatah) atau Qadha ( ketentuan).Selama tujuhbelas tahun ini aku masih menggunakan teori orang Arab yaitu Qadha nya Allah, saat aku menghadapi kejadian-kejadian yang memerlukan ketenangan dan ketentraman. Dengan cara yang aku dapatkan dari orang – orang Arab ini, aku lebih dapat menenangkan sarafku daripada ribuan obat-obat penenang. Menurut Karel dan Budley, keimanan merupakan obat pereda ketegangan syaraf Namun keimanan seperti yang mereka maksudkan belum sepenuhnya sesuai dengan pengertian iman dalam Islam yang sesungguhnya. Sementara itu Dale Carnigie, seorang penulis besar tentang ilmu-ilmu kejiwaan, dengan jelas dan tegas mengatakan tentang pengaruh iman dalam mencegah ketegangan. ” Para dokter kejiwaan sepakat bahwa keimanan yang kokoh dan berpegang kepada agama dapat menghilangkan ketegangan syaraf dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit ini. Pengaruh ketegangan dan kecemasan pada jiwa manusia sering melekat pada hatinya, sehingga mengapa pengetahuan modern sangat memperhatikan ilmu kejiwaan, kenapa pula kesehatan jiwa telah menjadi titik perhatian hampir semua kalangan dokter, baik para dokter kejiwaan maupun bukan. Hal itu dikarenakan ketegangan dan gangguan kejiwaan sangat berdampak pada jiwa, watak/karakter dan anatomis manusia. Orang – orang muslim dahulu telah mengetahui hal semacam itu, hal ini dapat kita lihat melalui sabda Nabi Muhammad SAW saat berdoa ;


Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari segala kecemasan dan kesusahan.

Ali bin Abu Thalib ditanya tentang pasukan Allah yang paling dahsyast, lalu beliau menjawab bahwa Pasukan Allah yang paling dahsyat ada sepuluh diantaranya yang nomor sepuluh adalah ketegangan (kecemasan) yang mengalahkan tidur. Maka ketegangan merupakan pasukan Allah yang paling dahsyat, sebab bila ketegangan bertiup melalui hati akan menghancurkan hati dan merusaknya serta memalingkan hati dari kehidupan yang baik. Kehidupan, dalam pandangan orang yang tegang atau stres hanyalah seluas lubang jarum. Ia hanya melihat kehidupan yang luas ini dalam keadaan serba sempit dan menyesakkan. Inilah yang menyebabkan para dokter mengetahui betapa pentingnya ketenangan jiwa, dan betapa besar pengaruhnya kepada kesehatan manisia secara umum. Apa yang kita lihat sebenarnya ketika orang – orang asyik dengan merokok, minum alkohol dan menikmati obat-obatan yang dapat menenangkan sesaat, perbuatan semacam itu hanyalah sedang bergelut atau berdekatan dengan ketegangan yang nyata. Tanpa itu semuanya ketegangan menjadi sering muncul akan tetapi belum sepenuhnya mereka sadar akan bahaya yang lebih besar yaitu munculnya tekanan jiwa dan menurunnya kesehatan.Suatu hal yang merepotkan para dokter jiwa saat ini adalah dampak kebudayaan modern pada kesehatan manusia. Bertambahnya kemajuan zaman, jika tidak diimbangi dengan perkembangan nilai-nilai moral, justeru nilai-nilai moral akan terpuruk, hal ini jelas memiliki dampak yang buruk pada kesehatan jiwa. Timbulnya penyakit-penyakit modern sangat menghawatirkan para dokter saat ini. Seseorang yang terkena penyakit modern ini dinamakan ” tekanan jiwa ” atau stres berat yaitu suatu kondisi yang sangat menyedihkan dan secara terus menerus menguasai orang tersebut sehingga dapat mengubah kondisi alami manusia menjadi kondisi sakit.Membiasakan sholat serta shalat tahajud yang dilaksanakan dengan penuh konsisten/istiqomah merupakan sarana bagi seorang muslim untuk mencapai tangga dan menapaki tingkat menuju ke puncak ke imanan . Al Qur’an berorientasi kepada keimanan, sedangkan sholat merupakan salah satu sarana jalan menuju keimanan. Karena iman sangat penting bagi jiwa dan hati manusia, maka hendaknya dilakukan dengan niat dan ikhlas

a. Niat

Secara etimologis, niat berasal dari niyyah atau an-niyyah identik dengan al-qashad, as-‘azimah, al-‘iradah, alhimmah, yang mengandung pengertian: maksud, keinginan, kehendak, keinginan yang kuat, dan menyengaja.

Menurut Qardhawi, definisi niat dari berbagai ulama sbb:
• Niat adalah kemauan yang kuat
• Niat adalah tujuan yang terbetik di dalam hati
• Niat adalah dorongan hati yang dilihat sesuai dengan tujuan, baik berupa rumusan demi mendatangkan menfaat atau menghindarkan diri dari mudarat, baik fisik – material maupun psikis – spiritual
• Niat adalah tuntutan yang kuat
• Hakikat niat adalah pengaitan tujuan dengan hal tertentu yang dituju
• Niat adalah tujuan sesuatu yang disertai dengan pelaksanaannya

Niat itu wajib dalam ibadah, karena merupakan syarat sahnya suatu ibadah. Dalam masalah muamalah dan adat kebiasaan, jika bermaksud untuk memperoleh keridhaan Allah Swt dan mendekatkan diri kepada-Nya, diharuskan memakai niat. Sementara untuk meninggalkan perbuatan maksiat tidak dituntut adanya niat, begitu juga dengan upaya menghilangkan najis. Mengucapkan niat tidak disyariatkan dalam Islam, kecuali yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah Swt untuk: melaksanakan ihram haji, waktu akan menyembelih korban, atau hewan denda dalam haji. Dalam Al-Qur’an, niat itu diungkapkan dengan kata-kata ikhlas dan mukhlish – yang berkaitan erat dengan niat ikhlas; sebagaimana tercantum dalam QS Al-Baqarah 22, Az-Zumar 2, Luqman 32, Al-Ankabut 65, al-Bayyinah 5. Sabda Rasulullah Saw: Tiap perbuatan hanya sah dengan adanya niat, dan tiap ornag akan mendapatkan imbalan sesuai dengan amalnya (HR Bukhari dan Muslim).

Terapi sholat tahajjud yang dijalankan dengan tepat, kontinyu, khusyuk dan ikhlas dapat menimbulkan persepsi dan motivasi yang positif sehingga menimbulkan copring mechanism yang efektif. Dari penelitian ini, seharusnya menggugah semangat kita untuk melaksanakan sholat tahajjud. Sholat tahajjud sebagai upaya kita mendekatkan diri kepada Allah, yang telah memberi kita rezeki berlimpah, juga dapat menjadi terapi untuk menjaga kesehatan diri kita atau menyembuhkan segala macam penyakit. Maka, mulai sekarang mari kita galakkan gerakan sholat tahajjud mulai dari diri kita, keluarga dan lingkungan, sehingga kita memiliki pribadi dan diri yang sehat, tangguh dan memiliki kinerja yang baik.

b. Ikhlas
Makna ikhlas adalah membersihkan sesuatu hingga menjadi bersih, membersihkan segala perbuatan dari ketidak mampuan, termasuk apa yang timbul dari keinginan untuk menyenangkan diri sendiri dan mahluk lain, atau tujuan dari selain Allah Swt. Ikhlas adalah manunggalnya tujuan kepada yang Mahabenar dalam ketaatan. Ahli tassawuf berpendapat bahwa ibadah yang diterima Allah Swt adalah ibadah yang dilakukan dengan niat ikhlas, bersih dari riyaa’ dan syirik. Ketidak bersihan tujuan dari syirik lahir dan batin (meskipun dari segi fisik/syar’i benar) menyebabkan tertolaknya ibadah oleh Allah Swt. Syirik dalam ibadah mencakup segala aspek yang memasukkan keridhaan dan kepuasan dari selain Allah Swt, entah itu dari diri sendiri atau orang lain. Jika itu untuk kepuasan orang lain disebut dengan syirik lahiriah, sementara bila untuk memuaskan diri sendiri disebut syirik batiniah.
Beberapa contoh syirik yang dimaksudkan oleh ahli tassawuf itu antara lain:
• Ibadah yang dilakukan karena takut pada siksaan Allah dan mendambakan surga, bukan karena ikhlas mendapatkan keridhaan Allah.
• Niatan shalat tahajjud karena ingin rezeki lebih banyak, bukan karena rindu ridha Allah Swt.
• Niat bersedekah dan memberi santunan dengan harapan selamat dari bencana, bukan mencari ridha Allah Swt.
Sekalipun secara fikih sah, namun dari segi makrifat ibadah semacam itu tergolong tidak ikhlas karena dilandasi tujuan dan maksud duniawi atau mencari pemeneuhan kehendak nafsu duniawi.
Hakikat Khusyuk dalam Salat
Secara bahasa, khusyuk diartikan dengan tunduk, rendah hati, takluk, dan mendekat – hati maupun badan. Jika dikaitkan dengan suara berarti diam, jika dihubungkan dengan pandangan mata, berarti rendah. Menurut pengertian syariat, tunduk itu ada kalanya dalam hati atau dengan badan, seperti diam, atau keduanya. Khusyuk bisa dibagi atas:
1. khusyuk lahiriah, yakni melakukan gerak-gerik shalat dan ucapannya sesuai dengan tuntunan dan ajaran Rasulullah Saw;
2. khusyuk batiniah, yakni melakukan sholat dengan hati penuh rasa harap, cemas, takut, merasa diawasi, dan suasana mendukung terciptanya pelaksanaan lahir batin.
Al Ghazali menjelaskan hakikat khusyuk:
(1) Kehadiran hati;
(2) Mengerti apa yang dibaca dan diperbuat;
(3) Mengagungkan Allah Swt;
(4) Merasa gentar terhadap Allah Swt;
(5) Merasa penuh harap kepada Allah Swt; dan
(6) Merasa malu terhada-Nya

Rasulullah Saw menyatakan bahwa khusyuk adalah pekerjaan hati, dan khusyuknya hati membawa kekhusyukan fisik, sehingga beliau sering berdoa dengan kalimat:”Ya Allah! Aku mohon perlindungan-Mu dari hati yang tidak khusyuk.” Para ulama berbeda pendapat tentang khusyuk dan sahnya shalat. Sebagian ulama sufi memasukkan khusyuk sebagai salah satu di antara syarat sah shalat, sementara ulama fikih memandangnya sebagai sunnah saja (artinya ketiaadan kekhusyukan tidak membatalkan shalat). Al-Qur’an sendiri membatasi kesuksesan orang beriman itu dengan kekhusyukan dalam shalatnya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya (QS. Al-Mukminun [23]: 1-2).

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ {1}
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ {2}

IMAN kepada ALLAH yang mencakup semua rukun-rukun iman yang 6. Dalam ayat ini Allah menjelaskan, bahwa sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, dan sebaliknya amat rugilah orang-orang kafir yang tidak beriman, karena walaupun mereka menurut perhitungan banyak mengerjakan amal kebaikan, akan tetapi semua amalnya itu akan sia-sia saja di akhirat nanti, karena tidak berlandaskan iman kepada-Nya. Sesungguhnya lafal Qad di sini menunjukkan makna Tahqiq, artinya sungguh telah pasti (beruntunglah) berbahagialah (orang-orang yang beriman). Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan sifat yang kedua yaitu seorang mukmin yang berbahagia itu, jika salat benar-benar khusyuk dalam salatnya, pikirannya selalu mengingat Tuhan, dan memusatkan semua pikiran dan pancainderanya dan munajat kepada Allah SWT. Dia menyadari dan merasakan bahwa seorang yang salat itu benar-benar sedang berhadapan dengan Tuhannya, maka oleh karena itu seluruh badan dan jiwanya diliputi kekhusyukan, kekhidmatan dan keikhlasan, diselingi dangan rasa takut dan diselubungi dengan penuh harapan kepada Tuhannya. Maka untuk dapat memenuhi syarat kekhusyukan dalam salatnya, harus memperhatikan tiga perkara.

a). Mengerti tentang bacaannya, supaya ucapan lidahnya dapat diikuti dengan pengertiannya, sesuai dengan ayat Artinya: Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci?. (Q.S. Muhammad: 24)

أَفَمَن كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّهِ كَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءهُمْ {14}

Maka apakah orang-orang yang berpegang pada keternagan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya(QS. 47:14)


Dalam ayat ini Allah SWT. mengadakan perbandingan antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang yang kafir dengan mengatakan, "Apakah sama orang yang mau berpikir sehingga ia mempunyai pengertian, pemahaman dan keyakinan terhadap agama Allah dan Alquran yang diturunkan kepada Muhammad dengan orang-orang yang tidak mau menggunakan pikirannya. sehingga ia tidak percaya bahwa Allah akan memberi pembalasan yang setimpal kepada orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan godaan setan? Tentu saja kedua macam orang itu tidak sama, bahkan mempunyai perbedaan sangat besar. Pada ayat yang lain Allah berfirman:

Artinya:
Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-Mu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Q.S. Ar Ra'd: 19) Dan firman Allah SWT.:

Artinya:
Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga, penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Al Hasyr: 20)

b). Ingat kepada Allah dan takut kepada ancaman-Nya, sesuai dengan Firman-Nya : Artinya: Dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku. (Q.S. Taha: 14)

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي {14}

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.(QS. 20:14)


Pada ayat ini Allah SWT. menerangkan wahyu yang utama dan terpenting ialah bahwa tiada Tuhan yang sebenarnya melainkan Allah SWT, tiada sekutu bagi-Nya, untuk menanamkan rasa tauhid, meng-Esakan Allah SWT, memantapkan pengakuan yang disertai dengan keyakinan dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Oleh karena itu hanya Dialah satu-satunya yang wajib disembah, ditaati peraturan-peraturan-Nya, Tauhid ini, adalah pokok dari segala yang pokok, dan tauhid ini pulalah merupakan kewajiban pertama dan atau untuk diajarkan lebih dahulu kepada manusia, sebelum pelajaran-pelajaran agama yang lain.

Pada akhir ayat ini Allah SWT. menekankan supaya salat didirikan. Tentunya salat yang sesuai dengan perintah-Nya, lengkap dengan rukun-rukun dan syariat-syariatnya, untuk mengingat Allah SWT. dan berdoa memohon kepada-Nya dengan penuh ikhlas. Menyebut ibadat salat di sini secara khusus, menunjukkan keutamaan ibadat salat itu dibanding dengan ibadat-ibadat wajib yang lain, seperti puasa, zakat, haji dan lain-lain. Antara lain keutamaan ibadat salat itu, ialah apabila dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan tata tertib yang telah digariskan untuknya, ia akan mencegah seseorang dari perbuatan yang keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah SWT;

Artinya:
"Dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu, mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar". (Q.S Al Ankabut: 45)

Sebagian ahli Tafsir berpendapat bahwa penutup ayat ini, ditujukan kepada orang yang tidak menunaikan salat pada waktunya, apakah karena lupa atau lainnya, supaya melaksanakannya apabila ia sudah sadar dan mengingat perintah Allah yang ditinggalkan itu sebagaimana sabda Rasulullah saw.

Artinya:
Barangsiapa lupa menunaikan salat maka hendaklah ia melakukannya apabila ia telah mengingatnya, karena Allah SWT. berfirman, "Dirikanlah salat untuk mengingat Aku (perintah-Ku)!". (H.R Tirmizi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah) Dan sabdanya pula:

Artinya:
Apabila salah seorang kamu tidur sehingga tidak salat atau lupa salat hendaklah ia menunaikannya, apabila ia telah mengingatnya, karena sesungguhnya Allah SWT. berfirman, "Dan dirikanlah salat karena mengingat Aku". (H.R Bukhari dan Muslim dari Anas)

c). Salat berarti munajat kepada Allah, pikirannya dan perasaannya harus selalu mengingat dan jangan lengah atau lalai. Para Ulama berpendapat bahwa salat yang tidak khusyuk sama dengar. tubuh tidak berjiwa. Akan tetapi ketiadaan khusyuk dalam salat tidak membatalkan salat, dan tidak wajib diulang lagi.

Kalangan alim ulama memberikan rekomendasi agar mampu khusyuk sebagai berikut:
• Ketika shalat, hendaklah merenungkan bahwa ia sedang berdiri di hadapan Allah Yang Mahakuasa, yang Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam pikiran dan hati;
• Menghayati makna apa yang sedang dibaca;
• Memasukkan arti tersebut ke dalam hati;
• Tidak tergesa-gesa dalam ucapan dan amalan shalat;
• Menundukkan muka ke tempat sujud;
• Menjauhkan dari segala hal yang dapat mengusik ketenangan hati.

Shalat tahajjud yang dilakukan di penghujung malam yang sunyi, kata Sholeh, bisa mendatangkan Ketenangan. Sementara ketenangan itu sendiri terbukti mampu meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan hidup. Sebaliknya, bentuk-bentuk tekanan mental seperti Stres maupun Depresi membuat seseorang rentan terhadap berbagai penyakit, infeksi dan mempercepat perkembangan sel kanker serta meningkatkan metastasis (penyebaran sel kanker). Tekanan mental itu sendiri terjadi akibat gangguan irama sirkadian (siklus bioritmik manusia) yang ditandai dengan peningkatan Hormon Kortisol. Perlu diketahui, Hormon Kortisol ini biasa dipakai sebagai tolok ukur untuk mengetahui kondisi seseorang apakah jiwanya tengah terserang stres, depresi atau tidak. Teori baru yang dikemukakan Prof. Dr. H.M Sholeh Drs.MPD.PNI dalam seminarnya bahwa Stres Bisa Dikelola. dan pengelolaan itu bisa dilakukan dengan cara edukatif atau dengan cara Teknis Relaksasi atau Perenungan/Tafakur dan umpan balik hayati (bio feed back). "Nah, shalat tahajjud mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai coping mechanism atau pereda stres yang akan meningkatkan ketahanan tubuh seseorang secara natural", jelas Sholeh dalam disertasinya berjudul Pengaruh Shalat Tahajjud Terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik. Tahajjud harus secara Ikhlas & Kontinyu Namun pada saat yang sama, shalat tahajjud pun bisa mendatangkan stres, terutama bila tidak dilaksanakan secara ikhlas dan kontinyu. "Jika tidak dilaksanakan dengan ikhlas, bakal terjadi kegagalan dalam menjaga homeostasis atau daya adaptasi terhadap perubahan pola irama pertumbuhan sel yang normal, tetapi jika dijalankan dengan ikhlas dan kontinyu akan sebaliknya", katanya kepada Republika. dengan begitu, keikhlasan dalam menjalankan shalat tahajjud menjadi sangat penting. Selama ini banyak kiai, dan intelektual berpendapat bahwa ikhlas adalah persoalan mental-psikis. Artinya, hanya Allah swt yang mengetahui dan mustahil dapat dibuktikan secara ilmiah. Namun lewat penelitiannya, Sholeh berpendapat lain. Ia yakin, secara medis, ikhlas yang dipandang sebagai sesuatu yang misteri itu bisa dibuktikan secara kuantitatif melalui indikator sekresi hormon kortisol. "Keikhlasan Anda dalam shalat tahajjud dapat dimonitor lewat irama sirkadian, terutama pada sekresi hormon kortisolnya", kata pria yang meraih gelar doktor pada bidang psikoneoroimunologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.

Dijelaskan Sholeh, jika ada seseorang yang merasakan sakit setelah menjalankan shalat tahajjud, besar kemungkinan itu berkaitan dengan niat yang tidak ikhlas, sehingga gagal terhadap perubahan irama sirkadian tersebut. Gangguan adaptasi itu tercermin pada sekresi kortisol dalam serum darah yang seharusnya menurun pada malam hari. Apabila sekresi kortisol tetap tinggi, maka produksi respon imunologik akan menurun sehingga berakibat munculnya gangguan kesehatan pada tubuh seseorang. Sedangkan sekresi kortisol menurun, maka indikasinya adalah terjadinya produksi respon imunologik yang meningkat pada tubuh seseorang. Niat yang tidak ikhlas, kata Sholeh, akan menimbulkan Kekecewaan, Persepsi Negatif, dan Rasa Tertekan. Perasaan negatif dan tertekan itu menjadikan seseorang rentan terhadap serangan stres. Dalam kondisi stres yang berkepanjangan yang ditandai dengan tingginya sekresi kortisol, maka hormon kortisol itu akan bertindak sebagai imunosupresif yang menekan proliferasi limfosit yang akan mengakibatkan imunoglobulin tidak terinduksi. Karena imunoglobulin tidak terinduksi maka sistem daya tahan tubuh akan menurun sehingga rentan terkena infeksi dan kanker. Kanker, seperti diketahui, adalah pertumbuhan sel yang tidak normal. kalau melaksanakan shalat tahajjud dengan ikhlas dan kontinyu akan dapat merangsang pertumbuhan sel secara normal sehingga membebaskan pengamal shalat tahajjud dari berbagai penyakit dan kanker (tumor ganas),

Shalat tahajjud yang dijalankan dengan tepat, kontinyu, khusuk, dan ikhlas dapat menimbulkan persepsi dan motivasi positif sehingga menumbuhkan coping mechanism yang efektif. Sholeh menjelaskan, respon emosional yang positif atau coping mechanism dari pengaruh shalat tahajjud ini berjalan mengalir dalam tubuh dan diterima oleh batang otak. Setelah diformat dengan bahasa otak, kemudian ditrasmisikan ke salah satu bagian otak besar yakni Talamus. Kemudian, Talamus menghubungi Hipokampus (pusat memori yang vital untuk mengkoordinasikan segala hal yang diserap indera) untuk mensekresi GABA yang bertugas sebagai pengontrol respon emosi, dan menghambat Acetylcholine, serotonis dan neurotransmiter yang lain yang memproduksi sekresi kortisol. Selain itu, Talamus juga mengontak prefrontal kiri-kanan dengan mensekresi dopanin dan menghambat sekresi seretonin dan norepinefrin. Setelah terjadi kontak timbal balik antara Talamus-Hipokampus-Amigdala-Prefrontal kiri-kanan, maka Talamus mengontak ke Hipotalamus untuk mengendalikan sekresi kortisol

Sebuah penelitian ilmiah membuktikan, shalat tahajjud membebaskan seseorang dari pelbagai penyakit. Berbahagialah Anda yang rajin shalat tahajjud. Di satu sisi pundi-pundi pahala Anda kian bertambah, di sisi lain, Anda pun bisa memetik keuntungan jasmaniah. Insya Allah, Anda bakal terhindar dari pelbagai penyakit. Ketenangan Shalat tahajjud yang dilakukan di penghujung malam yang sunyi, kata Sholeh, bisa mendatangkan ketenangan. Sementara ketenangan itu sendiri terbukti mampu meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan hidup. Sebaliknya, bentuk-bentuk tekanan mental seperti Stres maupun Depresi membuat seseorang rentan terhadap berbagai penyakit, infeksi dan mempercepat perkembangan sel kanker serta meningkatkan metastasis (penyebaran sel kanker). Tekanan mental itu sendiri terjadi akibat gangguan irama sirkadian (siklus bioritmik manusia) yang ditandai dengan peningkatan Hormon Kortisol. Perlu diketahui, Hormon Kortisol ini biasa dipakai sebagai tolok ukur untuk mengetahui kondisi seseorang apakah jiwanya tengah terserang stres, depresi atau tidak.

Demikian yang dapat disampaikan semoga bermanfaat

Wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Sumber berbagai materi yang di unduh di web
Prof. Dr. H.M Sholeh Drs.MPD.PNI dalam seminarnya Stres Bisa Dikelola.
Tafsur Al Quran Kementerian Agama ( d/h Depag )

1 komentar:

  1. Ijin share beberapa paragraf, insya Allah akan saya sertakan link-nya.. terima kasih.

    Muslikhah

    BalasHapus

Tinggalkan Komentar Yang Tidak Mengandung Unsur-unsur SARA, SPAM, SCAM dan Kekerasan. Terimakasih.